BUNUH DIRI SECARA PERLAHAN.
Andai kau sadari betapa berharganya hidupmu?
Ada seseorang yang baru memasuki usia dewasa awal, ya usianya sekitar 18 Thn.
Emosinya tergolong belum stabil untuk menghadapi kerasnya hidup yang sesungguhnya. Apa yang ia hadapi kini berbanding terbalik seperti apa yang iya bayangkan dan impikan.
Dimassa sekolah dahulu ia adalah sosok yang ambisius, apapun ingin ia miliki, semuanya ia ingin dapatkan. Hingga akhirnya ia melakukan berbagai usaha untuk mencapai apa yang ia harapkan, banyaknya pengorbanan yang ia lakukan tak terhitung lagi, dari waktu,teman, hobi,barang kesukaan, dan semacamnya.
Semuanya rela ia korbankan agar apa yang ia mau bisa ia dapatkan. Dan pada akhirnya sedikit demi sedikit apa yang ia tuju dapat diraihnya.
Puas dengan segala hasil yang diterima, membuatnya berbangga diri dan terlena. UN SMA datang, semua ia persiapkan dengan matang, dan hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan.
Setelah mengukir kesuksesan selama bersekolah di SMA, ia benar-benar terbuai dengan apa yang dimilikinya.
Namun target hidupnya hanya sebatas di SMA saja, dan ia belum merencanakan impian selanjutnya.
Hingga saat itu tiba, krisis hidup mulai ia rasakan.
Hidup yang sebenarnya telah dimulai.
Pengumuman penerimaan mahasiswa baru 2015, ya! Itulah yang sangat ia nantikan, target akhir dari semua target yang dibuatnya selama bersekolah di SMA .
Pengumuman Mahasiswa Baru UGM jurusan Teknik Industri 2015. Ya itulah yg ia nantikan...
Dan ternyata ia ditolak,
sebagai sosok manusia biasa yang memiliki emosi, wajar bila ia menangis. Meski ia adalah remaja lelaki berbadan kekar.
Namun...Ia tak patah semangat, dan mencoba berbagai jalur untuk menggapai impiannya, dari SBMPTN, jalur khusus, tes langsung ke Univ nya, dn semacamnya.
Semua itu ia lakukan, Hanya untuk 1 tujuan yaitu menjadi mahasiswa Teknik Industri di UGM.
Namun, usahanya tiada yang membuahkan hasil. Semuanya Gagal total. Tanpa menyisihkan kenangan bahagia sedikitpun untuk diingat.
Pola fikirnya tiba-tiba berubah total, mengklaim dirinya tak bisa apa-apa dan tak mampu berbuat apa-apa serta tak pernah mencapai apa-apa.
Ini karena persepsi pandangan yang ia lihat pada teman-teman sekelilingnya. Yang menurutnya tak berusaha sekerasNya, namun bisa mendapat apa yang lebih dari yang ia miliki. Ya, semua teman" yang tak pernah ranking dikelasnya, mereka semua lulus ke PTN begengsi dengan jurusan favorit.
Terlebih saingannya, yang masuk ke PTN yang ia inginkan dengan jurusan yang sama seperti apa yang ia mau. Ya, saingannya diterima diUGM dengan jurusan Teknik Industri. Padahal bila disandingkan dengannya dalam hal "skills" perbandingannya jauh.
Berbagai macam piagam ditangannya, dari siswa berprestasi, juara 1 berturut-turut lomba fisika, juara 1 basket putra Kabupaten, serta kedudukan untuk masuk peringkat 3 besar dikelas tak pernah terlepas dari genggamannya, dsb.
Namun, semua itu hanyalah gelar yang terlukis diselembar kertas menggunakan tinta.
Merasa belum pernah mengalami kegagalan sesakit ini, ia mencoba tegar menghadapinya. Langkah yang ia ambil yaitu mencoba.
Ya, Ia ingin mencoba ditahun berikutnya namun ia tak mendapat restu dari kedua orang tuanya.
Merasa sangat putus asa, ia kehilangan semangat hidup dan membiarkan kehidupan mengalir begitu saja, hidupnya dikontrol penuh oleh orang tuanya. Menjalani hidup yang bukan hidupnya.
Ia dimasukkan ke perguruan tinggi swasta dengan jurusan dimana ia tidak memiliki skill dalam bidang itu. Ia hanya mengiyakan segala yang diperintah oleh orang tuanya.
Seiring berjalannya waktu kini ia duduk di bangku kuliah, disini badai benar-benar menerjangnya. Sosoknya dulu sewaktu duduk dibangku SMA hilang begitu saja.
Dahulu Ia adalah sosok remaja yang baik, rajin, cerdas, pintar, pekerja keras, aktif, kreatif, ramah, jujur dan tampan.
Namun, karena satu kegagalan, ketidakadaan rasa bersyukur dan pola fikir serta pandangan yang salah membuat hidupnya berantakan. Sosoknya dahulu kini berbanding terbalik dengan sekarang.
Ia jalani waktu di hidupnya, tanpa ada yang berarti dan bermakna sama sekali. Waktu hanya dilalui saja dan terbuang sia-sia.
Kerasnya kehidupan yang sebenarnya tidak sebatas sampai situ saja.
Keberlimpahan harta orang tua yang ia miliki sama sekali tak mampu membuatnya merasakan hidupnya kembali, orang tua sibuk mencari uang dan tak ada di sisinya. Bahkan dalam kondisi dimana ia sangat membuatuhkan kehadiran seseorang.
Diasuh dengan seorang pembantu semenjak TK dan terbiasa hidup sendiri tanpa adanya orang tua. Hanya kawan yang ia anggap sebagai keluarga, baginya tak ada lawan, tapi hanya ada kawan. Semuanya kawan.
Ya, sahabat baginya adalah segala. Namun, semua itu berubah ketika ia mendapat perilaku penghianatan dari sahabat yang paling ia percaya dan sayangi.
Hidupnya makin terasa hancur, terlebih lagi ia harus putus dengan sang kekasih karena alasan yang tidak jelas. Yaitu hanya karena sebuah kaos.
1 Semester telah berlalu, ia mendapatkan hasil dari hidup tergantung-gantung selama di perkuliahan. Hidup yang tak sesuai dengan keinginannya.
Dan anda tau?Ya karena itu IP yang tidak diharapkan muncul.
Dengan menerima semua ini... Fikirannya terdokrin, bahwa dirinya adalah orang yang gagal dan tak bisa apa-apa. Ia merasa hidupnya sudah sangat hancur berantakan dan tak mampu terselamatkan.
Ya, BUNUH DIRI? itulah yang terlintas difikirannya. Namun, hati nurani masih ia miliki. Ia memikirkan perasaan kedua orang tuanya bila ia mengakhiri hidupnya secara langsung.
Akhirnya Bunuh diri secara perlahan, itulah yang ia lakukan. Bagaimana? Dengan mengonsumsi rokok sebanyak-banyaknya dalam 1 hari, minimal 2 bungkus ia habiskan. Padahal dahulu ia sangat jauh dari rokok meski lingkungannya demikian, ia mampu membentengi diri untuk tidak mengonsumsi barang yang tak bermanfaat itu.
Dengan sisa kecerdasan yang ia miliki akhirnya ia mencari jalan untuk mengakhiri hidupnya dengan waktu yang cukup (tidak sekejap mata) dan tanpa rasa sakit namun nikmat yaitu dengan mengonsusmi rokok.
Ia tidak memilih akohol atau narkoba karena lagi-lagi masih memperdulikan perasaan kedua orang tuanya. Fikirnya ia tak mampu menyakiti kedua orang tuanya lebih dari itu.
Pengonsumsian rokok ia lakukan secara konsisten, setiap menjalankan suatu kegiatan ia merokok, selalu seperti itu. Kini rokok adalah bagian dari kehidupannya.
Sebab didalam rokok terdapat kandungan zat yang mampu membuat sang pengkonsumsi merasakan semangat dan tak mudah lelah. Semua itu mendorongnya melakukan berbagai aktivitas dan mampu membuatnya sedikit melupakan masalah hidup yang rumit bak benang kusut.
2 tahun berlalu, rokok yang ia konsumsi bukan menurun namun bertambah. Perlahan berbagai organ tubuh yang ia miliki mulai rusak, ia selalu mengecek kesehatan kedokter. Untuk melihat perkembangan kerusakan organ di tubuhnya agar ia cepat menemui ajalnya.
Dokter selalu mengomelinya dan menyuruhnya agar mau untuk diobati. Namun, ia tak pernah mau.
Dan kini kondisi tubuhnya semakin parah, organnya sangat rusak dan berbagai penyakit ganas ia derita salah satunya kanker paru-paru.
Ia merasa senang karena misi "bunuh diri secara perlahan" dapat ia lakukan. Dan berjalan lancar.
Hingga suatu ketika ia memberesi buku-buku sewaktu ia duduk di bangku SMA. Terdapat catatan yang mengisahkan perjuangannya dahulu untuk mencapai impian ketika di SMA, dan pada halaman terakhir. Ada 2 lembar foto yang terselip yaitu selembar foto kedua orang tuanya yang sedang tersenyum lepas dan selembar lagi adalah foto sang ibu ketika mengandung dirinya diusia 8 bulan sembari tersenyum hangat.
Dan diakhir buku tertulis, "Aku akan selalu membuat kalian tersenyum, aku akan menjadi anak yang sukses dan menjadi kebanggaan kalian, kalian harus tetap hidup dan melihat kesuksesanku nanti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan tersenyum bersama dan larut dalam canda".
"Bersabarlah Papa, Mama... Hingga saat itu tiba^-^"
Sontak pipinya basah seketika, matanya memerah karena tak mampu membendung air mata. Setetes demi setetes air mata itu menjatuhi foto indah yang terselip itu.
Semua air mata itu menjadi saksi bisu akan janji sewaktu SMU.
Dan kini ia telah tersadar, namun... Keadaan telah terjadi demikian, dan disinilah kata "SEANDAINYA" selalu ia ucapakan.
"Seandainya" aku bersyukur,
"Seandainya" aku memanfaatkan waktu ku,
"Seandainya" aku tak memilih jalan hidup yg salah,
"Seandainya" aku mampu mengontrol emosiku dan mengontrol pola fikir ini,.
Dan "Seandainya""Seandainya""Seandainya"...
Semua hanya sebatas "Seandainya".
Dari semua kata seandainya, hanya ini yg selalu ia ucapkan '"Seandainya" waktu dapat ku ulang kembali, setidaknya tubuhku tak hancur seperti ini'.
Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya yg suram, berhenti melakukan bunuh diri secara perlahan dengan tidak merokok.
Rokok, baginya munkin juga bagi setiap orang memang nikmat. Namun, kenikmatan itu harus dibayar dengan mahal dengan sesuatu yang tak mampu kita beli dan kita buat yaitu kesehatan tubuh (organ) dan waktu.
Uang munkin tak jadi masalah, tapi waktu. Waktu ia menghisap rokok, jatah waktu umurnya berkurang, dan ia menyadari itu, organnya semakin usang dan kebahagiaan hidup sesungguhnya tak mampu ia rasakan. Sebab rokok hanya memberikan kebahagia semu semata dan tak ada rasa bahagia sesungguhnya yang ia rasa semenjak merokok.
Dan kini masalah terbesar dalam hidupnya yaitu tubuh. Ya tubuh, tubuhnya tak mampu mewujudkan keinginan yang terlukis dibuku sewaktu SMA. Kini, semua hanya angan semata.
Sebab sekarang ia hanya mampu tertidur dan dikelilingi selang-selang serta alat medis disekitar tubunya, tak mampu tersenyum dan hidup layaknya orang normal.
Pilihan menentukan kehidupan mu.
Jangan hancurkan hidupmu hanya karena mengahadapi suatu masalah.
"Ingatlah" Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya, milikilah pola fikir yang positif, jangan sia-siakan waktu mu. Karena kelak kamu akan sangat membutuhkan waktu yang kau buang-buang dulu ataupun kini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar